Generasi Muda Suarakan Perlawanan terhadap Politik Uang dan Hoaks dalam Demokrasi
|
Gerung – Generasi muda di Nusa Tenggara Barat Khususnya Lombok Barat menyuarakan komitmen perlawanan terhadap praktik politik uang, hoaks, dan politik identitas dalam proses demokrasi. Komitmen tersebut mengemuka dalam diskusi edukatif berbentuk podcast yang diselenggarakan oleh Bawaslu Kabupaten Lombok Barat bersama mahasiswa di kantor Bawaslu Lombok Barat, Jumat (13/2).
Dua mahasiswa dari Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Darussalam Bermi, Fakrik Auliak dan Yulia Aspita, hadir sebagai narasumber dan membagikan pengalaman serta pandangan mereka terkait tantangan demokrasi di kalangan pemilih muda.
Dalam diskusi tersebut, keduanya menceritakan pengalaman pertama saat menggunakan hak pilih pada pemilu sebelumnya. Mereka mengaku sempat merasakan ketegangan dan kebingungan di bilik suara. Menurut mereka, kondisi itu menunjukkan pentingnya edukasi teknis kepemiluan bagi pemilih pemula agar tidak merasa terintimidasi saat proses pencoblosan.
“Kami melihat masih banyak pemilih muda yang bingung dengan prosedur di TPS. Edukasi teknis harus diperkuat supaya pemilih pemula lebih siap dan percaya diri,” ujar Fakrik dalam podcast tersebut.
Terkait praktik politik uang, keduanya menyampaikan penolakan tegas. Yulia mengungkapkan pernah mendapat tawaran uang untuk memilih calon tertentu, namun ia memilih menolak.
“Saya pernah ditawari uang untuk memilih, tapi saya tolak. Kalau kita menerima, dampaknya akan kembali ke masyarakat sendiri. Itu bisa mendorong korupsi dan merusak kualitas kepemimpinan,” tegas Yulia.
Mereka juga mengingatkan bahaya penyebaran hoaks dan eksploitasi politik identitas di media sosial menjelang pemilu. Menurut Fakrik, generasi muda harus membiasakan diri memeriksa sumber informasi sebelum mempercayai dan menyebarkannya. Ia menilai politik identitas kerap dipakai sebagai alat menjatuhkan lawan, bukan adu gagasan dan program.
Dalam perbincangan itu, keduanya turut membandingkan praktik demokrasi nasional dengan pemilihan Presiden Mahasiswa di kampus. Mereka menilai kontestasi di lingkungan kampus relatif lebih sehat karena mahasiswa cenderung menilai calon berdasarkan visi, misi, dan kapasitas, bukan iming-iming materi.
Sebagai penutup, Fakrik dan Yulia mengajak mahasiswa dan generasi muda untuk terlibat aktif sebagai pengawas partisipatif. Mereka menekankan bahwa anak muda tidak boleh hanya menjadi penonton, tetapi harus ikut mengawal jalannya demokrasi agar tetap bersih dan berintegritas.
Diskusi ini menegaskan peran strategis mahasiswa sebagai agen perubahan dalam memperkuat kualitas demokrasi, dimulai dari sikap kritis, penolakan terhadap politik uang, serta kecakapan menyaring informasi di ruang digital.
Penulis : tar
Editor : tar
Foto : Auliya